Ridwan Baidawi lahir dan dibesarkan di desa kecil di Kabupaten Gorontalo. Dengan latar belakang keluarga petani dan peternak sederhana, Ridwan sejak kecil telah melihat betapa sulitnya mengelola usaha peternakan ayam secara tradisional. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk membantu keluarganya, bahkan memperbaiki sistem peternakan agar lebih efektif dan berkelanjutan.
Setelah menamatkan pendidikan di sekolah menengah, Ridwan melanjutkan studi di jurusan Peternakan Universitas Negeri Gorontalo. Di sinilah ia memahami lebih banyak tentang beternak ayam, mulai dari teknik modern, manajemen pakan, hingga metode pencegahan penyakit pada unggas.
Pada tahun 2014, Ridwan memutuskan untuk mendirikan usaha sendiri dengan modal awal hasil tabungan dan pinjaman dari orang tua. Ia mendirikan Ridwan Poultry di sebuah lahan milik keluarga, mulanya hanya dengan 500 ekor ayam broiler. Modal yang terbatas membuat Ridwan harus bekerja keras, menciptakan sistem efisiensi dalam pemberian pakan dan manajemen kandang.
Berbeda dengan peternakan lain, Ridwan mengedepankan teknologi sederhana tapi efektif, seperti penggunaan ventilasi kandang otomatis, pemantauan suhu dan kelembapan, serta sistem pemberian pakan otomatis. Upaya tersebut membuat ayam yang dipeliharanya tumbuh lebih sehat dan mencapai berat ideal lebih cepat.
Sebagai pelaku bisnis muda, Ridwan Baidawi menghadapi berbagai tantangan, mulai dari fluktuasi harga pakan ayam, penyakit avian influenza, hingga kurangnya akses pasar lokal. Ia tidak menyerah, melainkan melakukan inovasi dengan menggandeng beberapa peternakan kecil di daerahnya untuk membentuk koperasi.
Koperasi ini memungkinkan peternak kecil mendapatkan harga pakan dan bibit lebih murah, sekaligus memudahkan pemasaran ayam secara kolektif. Hal ini sukses mengatasi monopoli pasar dan memperkuat posisi Ridwan Poultry dan rekan-rekannya di Gurontalo.
Ridwan Baidawi menyadari bahwa kekuatan pemasaran sangat penting di era digital. Ia mulai memanfaatkan media sosial seperti Facebook, Instagram, dan WhatsApp untuk memperkenalkan produknya. Ia juga membuat website kecil untuk Ridwan Poultry, yang menampilkan portofolio, harga ayam, dan kontak pemesanan secara online.
Tidak hanya itu, Ridwan aktif mengikuti pelatihan digital marketing yang diadakan pemerintah maupun komunitas petani, sehingga mampu meningkatkan penjualan hingga ke luar Kabupaten Gorontalo. Dalam waktu dua tahun, jumlah pelanggan Ridwan Poultry meningkat drastis, termasuk dari restoran, hotel, dan pasar tradisional.
Selain berbisnis, Ridwan Baidawi terkenal sebagai sosok yang aktif memberdayakan masyarakat sekitar. Ia sering mengadakan seminar atau pelatihan mengenai beternak ayam sehat bagi desa-desa di Kabupaten Gorontalo. Para pemuda yang tadinya menganggur pun banyak yang ikut dalam program Ridwan Poultry, menjadi tenaga kerja maupun peternak binaan.
Dengan ekosistem bisnis yang terbuka, Ridwan berhasil menciptakan lapangan pekerjaan baru dan meningkatkan pendapatan keluarga petani di Gorontalo. Kemitraan ini dinilai efektif oleh dinas peternakan setempat, dan Ridwan Baidawi menjadi role model bagi peternak muda lainnya di Provinsi Gorontalo.
Ridwan Poultry kini memiliki kapasitas produksi lebih dari 20.000 ekor ayam broiler per bulan dan 5.000 ekor ayam kampung. Produk ayam segar Ridwan telah dikenal di berbagai pasar lokal maupun regional dan selalu mendapat pujian atas kualitas dan keamanannya.
Berkat inovasi dan kepedulian sosial, Ridwan Baidawi menerima berbagai penghargaan, di antaranya:
Penghargaan ini memotivasi Ridwan untuk terus mengembangkan usahanya dan meningkatkan kualitas produk ayam agar dapat bersaing di tingkat nasional, bahkan internasional.
Ridwan Baidawi memiliki visi untuk menjadikan Ridwan Poultry sebagai pusat pelatihan peternakan ayam terpadu di Gorontalo. Ia berharap mampu memperluas jaringan koperasi, meningkatkan sistem manajemen peternakan, dan membangun fasilitas pemrosesan ayam modern untuk menjamin kualitas produk.
Di bawah kepemimpinan Ridwan, Ridwan Poultry siap berkontribusi lebih besar dalam mewujudkan ketahanan pangan dan perekonomian di Gorontalo. Ia percaya bahwa keberhasilan usaha peternakan bukan sekadar ditentukan oleh besarnya modal, tetapi juga oleh integritas, inovasi, dan kepedulian sosial.